You are currently browsing the monthly archive for November 2008.

Waktu kecil kita sering di beri ceritakan sama mama, papa,  ibu dan bapak guru.

Sampai  kita sudah besarpun cerita cerita itu masih terdegar dan masih diceritakan pada anak anak kita.

Cerita yang sudah tidak asing lagi di telinga, yaitu cerita kancil yang cerdik tetapi licik.

Kancil selalu menang, kancil selalu jadi nomor satu, selalu yang hebat walaupun disaat yang kepepet.

sifat licik itu lambat laut mengakar pada kehidupan kita sekarang, orang dengan berbagai alibinya bisa jadi menang, bisa jadi nomor satu,  bisa kelihatan hebat, walau dengan berbagai cara, termasuk dengan kelicikan.

Kehidupan yang diciptakan kancil-kancil sekarang ternyata bisa merubah nilai-nilai tradisi yang baik jadi tradisi yang kurang baik.

Tetapi itulah hasil pendidikan yang kita terima dari kecil.

Dari kecil pula kita diajarkan agar tandatangan kita dibuat serumit mungkin agar tidak dapat ditiru orang, faktanya mengang tandatangan itu sulit ditiru, tetapi kita lupa bahwa kita sudah diajarkan untuk tidak percaya pada orang, kita menganggap bahwa semua orang diluar kita adalah penipu, orang licik, oleh karena itu tanda tanganpun dibuat serumit mungkin, kalau perlu kita menipu diri kita sendiri dengan mempunyai lebih dari satu tanda tangan

dari dua kejadian itu patut kiranya kita merenung apakah cerita cerita seperti itu masih perlu dilestarikan ? atau lebih dari itu.

Mungkinkah hasil dari kelicikan itu kita budayakan ?


Televisi banyak menayangkan hal-hal gaib, tetapi kita sudah tahu yang tadinya gaib sekarang bukan gaib lagi, karena semua orang sudah tidak terbengong-bengong lagi dengan kegaiban itu

Bahkan orang sudah malas melihat tayangan tentang yang gaib karena mereka tahu bahwa itu bukan gaib lagi bukan ?

Sebagian orang mungkin mencoba coba merasakan tentang hal-hal yang berbau gaib dan memang itu banyak dirasakan oleh orang

Bila perasaanya tidak terjawab maka itu lah yang disebut gaib, jika perasaan kegaiban itu bias terjawab maka yang gaib itu sudah bukan gaib lagi.

Dengan era digitalisasi banyak hal yang dulu dianggap gaib, sekarang sudah bukan gaib lagi, contoh orang bias berkomunikasi dengan orang lain pada jarak yang jauh tanpa media yang nyata sepeti HP, Orang bisa melihat sesuatu kejadian ditempat yang nunjauh melalui tayangan TV, Orang bisa mengirim surat melalu media computer, duhu tentu hal-hal tersebut dianggap gaib sekarangkan bukan gaib lagi.

Sekarang orang berkomunikasi tanpa kabel tetapi masih menggunakan alat HP, besok lusa siapa tahu orang akan bisa berkomunikasi tanpa harus buka mulut cukup menyamakan frekuensinya saja, apakah itu mungkin ?

Sekarang orang melihat suatu kejadian melalu TV, besok lusa mungkin orang melihat sesuatu tampa media apapun cukup menyamakan frekuensinya akan terlihat ? mukinkah itu terjadi ?

Sekrang orang ingin mengetahui sesuatu perlu dibaca, besok lusa mungkin tidak perlu membaca cukup konsentrasi semua kejadian sudah ada dikepalanya, mungkinkah ini terjadi ?

Masih banyak ala mini menutup pengetahuan ini, tapi bisa jadi hal yang sekrang gaib besok lusa jadi bukan gaib lagi.

Ah,,, tulisan ini juga bisa disebut gaib…

Seminggu tak terasa lama bila dijalankan dengan kesadaran. mencoba untuk tersenyum lahir batin ternyata ampuh untuk mengusir rasa bosan. Duduk, mendengarkan orang ngomong, diskusi, buat tugas, makan, ngopi, ngopi lagi, ngopi lagi, tidur, semua itu jadi rutinitas. Sebagian orang menanggapinya dengan berbagai asa. Aku….mencoba menangkap sinyal-sinyak alam untuk berpihak padaku, walaupun  berat ternyata ada juga yang nyantol pada kehidupanku ini. Trima kasih Tuhan, kau telah mengjarkan aku cara melihat sesuatu dengan caraMU. Kenangan PLPG walau sebentar tentu telah mengukir sejarah dalam kehidupanku

Seorang teman datang, dia menceritakan bahwa mobilnya sudah dijual karena PHK, saya tanya terus uangnya kemana ? yah untuk makan lah.

Sejenak saya termenung dan bertanya sama teman saya, sekarang gimana ?

Tolong dong beli ini, sambil menunjukkan sebuah cincin perkawinan.

Saya jadi bengong ! barangmu kan banyak kok cincin itu yang akan kamu jual ? memang kamu udah cerai ?

Tidak, barang saya semua hampir habis, saya potong ceritanya kemana barang barang itu ? yah untuk makan lah.

Sambil ngak habis pikir, saya merenung, ternyata apa yang diusahakannya dahulu habis untuk urusan WC saja.

Ya, saya hanya menarik nafas panjang, benarkah sesuatu yang ada didunia ini akan habis di WC ?

Ah…..tidak, saya yakin tidak seperti itu …lantas apa lagi ???

clock2Semakin maju suatu peradaban, maka semakin akrab masyarakat dengan dunia sekolah ???

Dari jam 07.00 s/d 14.00 (bahkan ada yang lebih lagi ) anak digiring kedalam suatu komunitas yang dibentengi oleh tembok dan gedung, pada jam itu pula kebebasan mereka terkerangkeng dengan sistem ???

Pulang sekolah, mereka harus mengerjakan tugas dan pekerjaan rumah alias PR sampai matahari mulai terbenam

Begitu hari sudah gelap mereka di cecar oleh ibu dan bapak guru dirumah yang sekaligus berperan sebagai orang tua asli.

Untuk apa, tentu agar anak luas wawasannya, agar anak jadi pinter, agar anak jadi juara….ha…ha….

Mereka betul-betul masuk bui sepanjang waktu.

Betulkan waktu itu semuanya sekolah ???…

Ah…..inikan hanya tulisan….

pronas113Semakin langka kita melihat anak pergi ke warung membeli bahan-bahan untuk dimasak.

Berapa harga beras 1 liter saja mereka banyak yang tidak tahu, apalagi yang bukan makanan pokok seperti harga tepung terigu, sagu, garam, minyak goring, bawang merah, bawang putih, cabe merah, cabe rawit, gula, merica, ketumbar, salam, sereh, kelapa, kacang tanah, kacang hijau, apa lagi bahan-bahan rempah-rempah yang lain, makin saja tidak tahu.

Mereka mungin lebih tahu masakan yang instant, atau mungkin masakan mie, telor, naget, sozis yang sekali goring sudah jadi.

Dari segi bahan saja mereka kesulitan mengetahui harganya, apalagi kualitasnya,,,,ehm….ehm..?

Jangan Tanya bagai mana masaknya, ah jaman sudah berubah kali.

Padahal bila kita mau saja berbagi sama anak-anak kita mulai dari membeli, mengolahnya, menyajikannya, merasakannya ahhhh alangkah nikmatnya punya kemampuan seperti itu.

Apakah kita akan terus membiarkan mereka tidak tahu cara memasak ?

Perlu ngak yah mereka diajarkan masak ?

Jawabnya tergantung !!! karena banyak kepentingan dan ketidak percayaan….

Wayang selalu dimainkan oleh sang dalang dalam lakon-lakon yang dikehendaki oleh ki dalang.

Dalam kamus selalu ki dalang yang mempunyai lakon, dan wayang mana yang akan dimainkan.

Bila  memahami hubungan dalang dan wayang tentu akan berfikir bagaimana menjadi wayang yang baik, tentu ki dalang ingin bila wayang arjuna selalu jadi arjuna yang baik dan wayang rahwana itupun menjadi rahwana yang baik, jangan sekali-sekali wayang berubah peran, kadang jadi arjuna, kadang jadi rahwana, kalau wayang terus berganti peran tentu sang dalang males menggunakan wayang yang berubah-ubah peran.

Dan sangat mustahil bila wayang mencari dalang, agar dia digunakan dalam suatu lakon.

Yang pasti dalang yang akan mencari wayang untukmemerankan suatu lakon, hal ini tidak bisa dibalik-balik, ini sudah ketentuan disononya,,,,he,,,,he,,,

Karena itu dalam kehidupan ini, jadilah wayang yang baik sesuai peran yang diberikan oleh ki dalang, sehingga sang dalang akan terus menggunakan wayang yang baik itu, bukan hanya dalam satu-dua lakon tapi dalam semua lakon kehidupan.

Sesuatu yang pasti dalam menjalankan lakon kehidupan ini, kita harus tahu persis bahwa lakon yang kita perankan memang kehendak sang dalang.

Oleh karena itu dalam berperan tentu harus menuruti apa yang diinginkan sang dalang, diikuti saja.

Suka maupun duka jadi wayang harus kita lakoni, bagi yang percaya bila mau menjalankan dengan hati yang tulus menjadi wayang yang baik, tentu sang dalang akan sayang sama kia………amien