Waktu kecil kita sering di beri ceritakan sama mama, papa,  ibu dan bapak guru.

Sampai  kita sudah besarpun cerita cerita itu masih terdegar dan masih diceritakan pada anak anak kita.

Cerita yang sudah tidak asing lagi di telinga, yaitu cerita kancil yang cerdik tetapi licik.

Kancil selalu menang, kancil selalu jadi nomor satu, selalu yang hebat walaupun disaat yang kepepet.

sifat licik itu lambat laut mengakar pada kehidupan kita sekarang, orang dengan berbagai alibinya bisa jadi menang, bisa jadi nomor satu,  bisa kelihatan hebat, walau dengan berbagai cara, termasuk dengan kelicikan.

Kehidupan yang diciptakan kancil-kancil sekarang ternyata bisa merubah nilai-nilai tradisi yang baik jadi tradisi yang kurang baik.

Tetapi itulah hasil pendidikan yang kita terima dari kecil.

Dari kecil pula kita diajarkan agar tandatangan kita dibuat serumit mungkin agar tidak dapat ditiru orang, faktanya mengang tandatangan itu sulit ditiru, tetapi kita lupa bahwa kita sudah diajarkan untuk tidak percaya pada orang, kita menganggap bahwa semua orang diluar kita adalah penipu, orang licik, oleh karena itu tanda tanganpun dibuat serumit mungkin, kalau perlu kita menipu diri kita sendiri dengan mempunyai lebih dari satu tanda tangan

dari dua kejadian itu patut kiranya kita merenung apakah cerita cerita seperti itu masih perlu dilestarikan ? atau lebih dari itu.

Mungkinkah hasil dari kelicikan itu kita budayakan ?