You are currently browsing the monthly archive for Desember, 2008.

Pa. Udin sudah lama mengajar di SMP Tanpa Bakti, kurang lebih 24 tahun. Walau bukan PNS tapi pekerjaannya dia lakukan dengan penuh cinta kasih.

Tangannya yang sudah mulai keriput ternyata mempunyai banyak makna buat anak-anak didiknya. Kalau dihitung mungkin sudah lebih dari 2.000.000 juta murid yang bersalaman ria dengan beliau. Bahkan tak kurang tangannya itu di cium oleh murid-muridnya.

Dengan Tegas dan Keras dia menerapkan setiap aturan di sekolahnya

Cinta dan kasih yang tulus dari pa. Udin membuat hidupnya senang dalam memberi pendidikan pada anak didiknya

Pagi yang cerah, pa. Udin masuk kelas, semua muridnya menyambut dengan senyum yang merekah.

P. Udin    : Hari ini kita mulai pelajaran bab yang baru, Bp. akan cerita sekilas tentang ………………(P. Udin terus bercerita, sementara….)

Tenda       : Jadi ngak kita kerjain si erna ? tenda berbisik pada Rosid

Rosid       : Kasih tahu Jalu (ketua kelas), biar dia yang mengkoordinir

Erna         : Lu kata si rosid kamu yang koordinir kerjain erna.

Jalu          : Sembari nengok kiri kanan mulai membisikan pada teman-teman yang lainnya.

Suasana pagi yang masih segar untuk belajar  tidak mereka pergunakan dengan baik, anak-anak malah asik bisik-bisik sama temannya.

P. Udin    : Steeeeeeeet, ada apa kalian ? kok bisik bisik, tidak seperti biasanya.

Anak-anak : Tidak ada apa-apa pa.

P, Udin   : Ya, mari kita lanjutkan, jangan berisik lagi………..

Tiba-tiba….Blak, bangku di pukul, anak-anak semua diam.

P. Udin    :  Jalu kamu ketua kelas malah buat ribut, ada apa ? (dengan nada tinggiii)

Jalu           : Ngak ada apa-apa pak

P. Udin     ; Kalau ngak ada apa-apa kenapa kamu bisik-bisk, sambil cengengesan segala.

Jalu            : Mem (keburu dipotong Pa. Udin)

Plak, plak tangan keriput itu menampat pipi Jalu.

Tenda merasa tidak enak, Ia pun berdiri dan berkata pak, dia (keburu dipotong P. Udin) kamu juga sama tenda, plak, plak tangan keriput itu nempel dipipi tenda.

Suasana makin mencekam, kelas makin sepi.

Pa. Udin makin marah, tangan yang tadinya lembut jadi keras, sikapnya yang tegas jadi ganas…he…he…(bukan singa loh)

Pertanyaannya

  1. Si Erna mau dikerjain apa sih, sehingga teman-temannya sangat antusias, malah jalu ketua kelasnya ikut-ikutan mengkoordinir ?
  2. Cerita bab apa yang diterangkan pa. Udin ?
  3. Apakah anak-anak tahu  penyebab pa. Udin marah ?

Bukan membandingkan jaman dulu dan jaman sekarang tetapi ini sesuatu yang ingin ku ungkapkan.

Pada waktu usia sekolah menjelang Ulangan Akhir semester persiapan sudah dimulai seminggu sebelum tanggal pelaksanaan, tanpa disuruh orang tua, sesama teman saling kunjung mengunjungi untuk belajar bersama, berdiskusi tentang ulangan yang akan keluar dan bagaimana cara menghafalnya, kalau hitungan kita sama-sama mencari jawabnya.

Malam harinya buku-buku catatan, buku paket di kebet satu persatu hingga hafal titik komanya.

Pada waktu pelaksanaan di sekolah, ada sedikit waktu buku ini tak pernah lepas dari tangan dan mata.

Yang terjadi pada anak-anakku diJaman sekarang, boro-boro banyak diskusi tentang apa yang akan diulangkan, kadang-kadang jadwal untuk besok saja harus SMS an sama temannya.

Pulang sekolah nonton TV, sore harinya main sama teman-temannya, malam harinya belajar dari jam 19.00 , rasa kantung mulai menyerang, bantal dan guling sudah menanti, belajar diakhiri jam 20.00.

Pagi 06.15 udah berangkat ke sekolah, sedikitpun tanpa menyentuh buku lagi.

Rasa penasaran ku ungkapkan pada anak-anakku, menghadapi ulangan semesteran kok tak ada tanda-tanda peningkatan waktu belajarmu ?

Alasan mereka, Khan hanya ulangan bukan ujian.

Memangnya beda ?

Ya jelas beda donk.

Ulangan artinya mengulang-ulang pelajaran yang pernah didapat,

Kalau ujian, perlu belajar ekstra, ekstra segalanya….

Kenapa ?

Karena ujian ada konsekuensinya, orang bisa lulus atau tidak lulus.

Sembari bengong saya termangu-mangu,

dalam hati bertanya-tanya apa benar ucapan anak-anakku ?

Kalau ngak ada konsekuensinya ngak perlu belajar keras ?

Ah jaman memang udah rubah kali…

P. Ahmad setiap tahun selalu membeli kambing untuk dikorbankan pada bulan haji (bulan Dzhulhijah)

Sebagai seorang PNS  gol. IIb dengan satu istri dan 3 orang anak, ia berusaha menyisihkan penghasilannya setiap bulan agar bulan haji bisa berkorban satu kambing saja, yang dagingnya dapat dibagikan pada tetangganya

Senyum P. Ahmad merekah bila dapat melaksanakan korban tersebut.

Padahal setiap harinya istri dan anak-anaknya bermuka muram, hal tersebut karena keluarga P. Ahmad hidup di bawah garis kemiskinan.

Melihat keluarganya seperti itu, P Ahmad berpikir, bagaimana caranya agar keluarganya tidak bermuram durja tetapi ia dapat melaksanakan korban pada bulan haji.

Dikantor sebagai pelayan masyarakat, P. Ahmad dikenal sebagai pekerja yang rajin dan disenangi rekan-rekannya.

Akan tetapi persoalan di rumah membuat ia banyak berpikir.

Satu pihak ia ingin berkorban, dilain pihak ia harus mengorbankan anak dan istrinya dengan memotong penghasilannya Rp. 100.000,- per bulan.

Agar ia dapat berkorban dan keluarganya tidak dipotong penghasilannya, P. Ahmad mulai memberikan pelayananya pada masyarakat dengan baik bila ada TIPs,

Yang tidak memberi TIPs, P. Ahmad akan menunda-nunda pekerjaan tersebut.

Alhasil ternyata dalam sebulan P. Ahmad bisa menghasilkan TIPs dari masyarakat pengguna jasanya sampai Rp. 300.000,00

Pada hari ini, ia dan keluarganya bisa tersenyum, karena lebaran haji kali ini, ia bisa berkorban 2 ekor kambing ditambah nasi untuk disantap oleh tetangganya.

P. Ahmad sangat bersyukur, karena Sang Penguasa Alam telah memberinya jalan.

Tahun depan siapa lagi yang akan dijadikan korban P. Ahmad ? Siapa lagi yang mau saya jadikan korban….he…he…