You are currently browsing the category archive for the 'Coretan' category.

Pa. Udin sudah lama mengajar di SMP Tanpa Bakti, kurang lebih 24 tahun. Walau bukan PNS tapi pekerjaannya dia lakukan dengan penuh cinta kasih.

Tangannya yang sudah mulai keriput ternyata mempunyai banyak makna buat anak-anak didiknya. Kalau dihitung mungkin sudah lebih dari 2.000.000 juta murid yang bersalaman ria dengan beliau. Bahkan tak kurang tangannya itu di cium oleh murid-muridnya.

Dengan Tegas dan Keras dia menerapkan setiap aturan di sekolahnya

Cinta dan kasih yang tulus dari pa. Udin membuat hidupnya senang dalam memberi pendidikan pada anak didiknya

Pagi yang cerah, pa. Udin masuk kelas, semua muridnya menyambut dengan senyum yang merekah.

P. Udin    : Hari ini kita mulai pelajaran bab yang baru, Bp. akan cerita sekilas tentang ………………(P. Udin terus bercerita, sementara….)

Tenda       : Jadi ngak kita kerjain si erna ? tenda berbisik pada Rosid

Rosid       : Kasih tahu Jalu (ketua kelas), biar dia yang mengkoordinir

Erna         : Lu kata si rosid kamu yang koordinir kerjain erna.

Jalu          : Sembari nengok kiri kanan mulai membisikan pada teman-teman yang lainnya.

Suasana pagi yang masih segar untuk belajar  tidak mereka pergunakan dengan baik, anak-anak malah asik bisik-bisik sama temannya.

P. Udin    : Steeeeeeeet, ada apa kalian ? kok bisik bisik, tidak seperti biasanya.

Anak-anak : Tidak ada apa-apa pa.

P, Udin   : Ya, mari kita lanjutkan, jangan berisik lagi………..

Tiba-tiba….Blak, bangku di pukul, anak-anak semua diam.

P. Udin    :  Jalu kamu ketua kelas malah buat ribut, ada apa ? (dengan nada tinggiii)

Jalu           : Ngak ada apa-apa pak

P. Udin     ; Kalau ngak ada apa-apa kenapa kamu bisik-bisk, sambil cengengesan segala.

Jalu            : Mem (keburu dipotong Pa. Udin)

Plak, plak tangan keriput itu menampat pipi Jalu.

Tenda merasa tidak enak, Ia pun berdiri dan berkata pak, dia (keburu dipotong P. Udin) kamu juga sama tenda, plak, plak tangan keriput itu nempel dipipi tenda.

Suasana makin mencekam, kelas makin sepi.

Pa. Udin makin marah, tangan yang tadinya lembut jadi keras, sikapnya yang tegas jadi ganas…he…he…(bukan singa loh)

Pertanyaannya

  1. Si Erna mau dikerjain apa sih, sehingga teman-temannya sangat antusias, malah jalu ketua kelasnya ikut-ikutan mengkoordinir ?
  2. Cerita bab apa yang diterangkan pa. Udin ?
  3. Apakah anak-anak tahu  penyebab pa. Udin marah ?

P. Ahmad setiap tahun selalu membeli kambing untuk dikorbankan pada bulan haji (bulan Dzhulhijah)

Sebagai seorang PNS  gol. IIb dengan satu istri dan 3 orang anak, ia berusaha menyisihkan penghasilannya setiap bulan agar bulan haji bisa berkorban satu kambing saja, yang dagingnya dapat dibagikan pada tetangganya

Senyum P. Ahmad merekah bila dapat melaksanakan korban tersebut.

Padahal setiap harinya istri dan anak-anaknya bermuka muram, hal tersebut karena keluarga P. Ahmad hidup di bawah garis kemiskinan.

Melihat keluarganya seperti itu, P Ahmad berpikir, bagaimana caranya agar keluarganya tidak bermuram durja tetapi ia dapat melaksanakan korban pada bulan haji.

Dikantor sebagai pelayan masyarakat, P. Ahmad dikenal sebagai pekerja yang rajin dan disenangi rekan-rekannya.

Akan tetapi persoalan di rumah membuat ia banyak berpikir.

Satu pihak ia ingin berkorban, dilain pihak ia harus mengorbankan anak dan istrinya dengan memotong penghasilannya Rp. 100.000,- per bulan.

Agar ia dapat berkorban dan keluarganya tidak dipotong penghasilannya, P. Ahmad mulai memberikan pelayananya pada masyarakat dengan baik bila ada TIPs,

Yang tidak memberi TIPs, P. Ahmad akan menunda-nunda pekerjaan tersebut.

Alhasil ternyata dalam sebulan P. Ahmad bisa menghasilkan TIPs dari masyarakat pengguna jasanya sampai Rp. 300.000,00

Pada hari ini, ia dan keluarganya bisa tersenyum, karena lebaran haji kali ini, ia bisa berkorban 2 ekor kambing ditambah nasi untuk disantap oleh tetangganya.

P. Ahmad sangat bersyukur, karena Sang Penguasa Alam telah memberinya jalan.

Tahun depan siapa lagi yang akan dijadikan korban P. Ahmad ? Siapa lagi yang mau saya jadikan korban….he…he…


Televisi banyak menayangkan hal-hal gaib, tetapi kita sudah tahu yang tadinya gaib sekarang bukan gaib lagi, karena semua orang sudah tidak terbengong-bengong lagi dengan kegaiban itu

Bahkan orang sudah malas melihat tayangan tentang yang gaib karena mereka tahu bahwa itu bukan gaib lagi bukan ?

Sebagian orang mungkin mencoba coba merasakan tentang hal-hal yang berbau gaib dan memang itu banyak dirasakan oleh orang

Bila perasaanya tidak terjawab maka itu lah yang disebut gaib, jika perasaan kegaiban itu bias terjawab maka yang gaib itu sudah bukan gaib lagi.

Dengan era digitalisasi banyak hal yang dulu dianggap gaib, sekarang sudah bukan gaib lagi, contoh orang bias berkomunikasi dengan orang lain pada jarak yang jauh tanpa media yang nyata sepeti HP, Orang bisa melihat sesuatu kejadian ditempat yang nunjauh melalui tayangan TV, Orang bisa mengirim surat melalu media computer, duhu tentu hal-hal tersebut dianggap gaib sekarangkan bukan gaib lagi.

Sekarang orang berkomunikasi tanpa kabel tetapi masih menggunakan alat HP, besok lusa siapa tahu orang akan bisa berkomunikasi tanpa harus buka mulut cukup menyamakan frekuensinya saja, apakah itu mungkin ?

Sekarang orang melihat suatu kejadian melalu TV, besok lusa mungkin orang melihat sesuatu tampa media apapun cukup menyamakan frekuensinya akan terlihat ? mukinkah itu terjadi ?

Sekrang orang ingin mengetahui sesuatu perlu dibaca, besok lusa mungkin tidak perlu membaca cukup konsentrasi semua kejadian sudah ada dikepalanya, mungkinkah ini terjadi ?

Masih banyak ala mini menutup pengetahuan ini, tapi bisa jadi hal yang sekrang gaib besok lusa jadi bukan gaib lagi.

Ah,,, tulisan ini juga bisa disebut gaib…

Kebersihan Mulut Ada yang muncul pada mulut kita,
Ada yang baik yang perlu disampaikan,
Terkadang bahasa kasar yang ingin kita ungkapkan,
Sampai kita lupa, bicara apa kita.
Pucuk bahasa, ungkapan yang ada pada akar bahasa.

Ada dimana akar bahasa kita ?