You are currently browsing the category archive for the 'Kejadian' category.

Bukan membandingkan jaman dulu dan jaman sekarang tetapi ini sesuatu yang ingin ku ungkapkan.

Pada waktu usia sekolah menjelang Ulangan Akhir semester persiapan sudah dimulai seminggu sebelum tanggal pelaksanaan, tanpa disuruh orang tua, sesama teman saling kunjung mengunjungi untuk belajar bersama, berdiskusi tentang ulangan yang akan keluar dan bagaimana cara menghafalnya, kalau hitungan kita sama-sama mencari jawabnya.

Malam harinya buku-buku catatan, buku paket di kebet satu persatu hingga hafal titik komanya.

Pada waktu pelaksanaan di sekolah, ada sedikit waktu buku ini tak pernah lepas dari tangan dan mata.

Yang terjadi pada anak-anakku diJaman sekarang, boro-boro banyak diskusi tentang apa yang akan diulangkan, kadang-kadang jadwal untuk besok saja harus SMS an sama temannya.

Pulang sekolah nonton TV, sore harinya main sama teman-temannya, malam harinya belajar dari jam 19.00 , rasa kantung mulai menyerang, bantal dan guling sudah menanti, belajar diakhiri jam 20.00.

Pagi 06.15 udah berangkat ke sekolah, sedikitpun tanpa menyentuh buku lagi.

Rasa penasaran ku ungkapkan pada anak-anakku, menghadapi ulangan semesteran kok tak ada tanda-tanda peningkatan waktu belajarmu ?

Alasan mereka, Khan hanya ulangan bukan ujian.

Memangnya beda ?

Ya jelas beda donk.

Ulangan artinya mengulang-ulang pelajaran yang pernah didapat,

Kalau ujian, perlu belajar ekstra, ekstra segalanya….

Kenapa ?

Karena ujian ada konsekuensinya, orang bisa lulus atau tidak lulus.

Sembari bengong saya termangu-mangu,

dalam hati bertanya-tanya apa benar ucapan anak-anakku ?

Kalau ngak ada konsekuensinya ngak perlu belajar keras ?

Ah jaman memang udah rubah kali…

Seminggu tak terasa lama bila dijalankan dengan kesadaran. mencoba untuk tersenyum lahir batin ternyata ampuh untuk mengusir rasa bosan. Duduk, mendengarkan orang ngomong, diskusi, buat tugas, makan, ngopi, ngopi lagi, ngopi lagi, tidur, semua itu jadi rutinitas. Sebagian orang menanggapinya dengan berbagai asa. Aku….mencoba menangkap sinyal-sinyak alam untuk berpihak padaku, walaupun  berat ternyata ada juga yang nyantol pada kehidupanku ini. Trima kasih Tuhan, kau telah mengjarkan aku cara melihat sesuatu dengan caraMU. Kenangan PLPG walau sebentar tentu telah mengukir sejarah dalam kehidupanku

Seorang teman datang, dia menceritakan bahwa mobilnya sudah dijual karena PHK, saya tanya terus uangnya kemana ? yah untuk makan lah.

Sejenak saya termenung dan bertanya sama teman saya, sekarang gimana ?

Tolong dong beli ini, sambil menunjukkan sebuah cincin perkawinan.

Saya jadi bengong ! barangmu kan banyak kok cincin itu yang akan kamu jual ? memang kamu udah cerai ?

Tidak, barang saya semua hampir habis, saya potong ceritanya kemana barang barang itu ? yah untuk makan lah.

Sambil ngak habis pikir, saya merenung, ternyata apa yang diusahakannya dahulu habis untuk urusan WC saja.

Ya, saya hanya menarik nafas panjang, benarkah sesuatu yang ada didunia ini akan habis di WC ?

Ah…..tidak, saya yakin tidak seperti itu …lantas apa lagi ???

clock2Semakin maju suatu peradaban, maka semakin akrab masyarakat dengan dunia sekolah ???

Dari jam 07.00 s/d 14.00 (bahkan ada yang lebih lagi ) anak digiring kedalam suatu komunitas yang dibentengi oleh tembok dan gedung, pada jam itu pula kebebasan mereka terkerangkeng dengan sistem ???

Pulang sekolah, mereka harus mengerjakan tugas dan pekerjaan rumah alias PR sampai matahari mulai terbenam

Begitu hari sudah gelap mereka di cecar oleh ibu dan bapak guru dirumah yang sekaligus berperan sebagai orang tua asli.

Untuk apa, tentu agar anak luas wawasannya, agar anak jadi pinter, agar anak jadi juara….ha…ha….

Mereka betul-betul masuk bui sepanjang waktu.

Betulkan waktu itu semuanya sekolah ???…

Ah…..inikan hanya tulisan….

pronas113Semakin langka kita melihat anak pergi ke warung membeli bahan-bahan untuk dimasak.

Berapa harga beras 1 liter saja mereka banyak yang tidak tahu, apalagi yang bukan makanan pokok seperti harga tepung terigu, sagu, garam, minyak goring, bawang merah, bawang putih, cabe merah, cabe rawit, gula, merica, ketumbar, salam, sereh, kelapa, kacang tanah, kacang hijau, apa lagi bahan-bahan rempah-rempah yang lain, makin saja tidak tahu.

Mereka mungin lebih tahu masakan yang instant, atau mungkin masakan mie, telor, naget, sozis yang sekali goring sudah jadi.

Dari segi bahan saja mereka kesulitan mengetahui harganya, apalagi kualitasnya,,,,ehm….ehm..?

Jangan Tanya bagai mana masaknya, ah jaman sudah berubah kali.

Padahal bila kita mau saja berbagi sama anak-anak kita mulai dari membeli, mengolahnya, menyajikannya, merasakannya ahhhh alangkah nikmatnya punya kemampuan seperti itu.

Apakah kita akan terus membiarkan mereka tidak tahu cara memasak ?

Perlu ngak yah mereka diajarkan masak ?

Jawabnya tergantung !!! karena banyak kepentingan dan ketidak percayaan….

Di banyak daerah pemilihan kepala daerah makin sering dilakukan, mungkin kita jadi ingat pada film India, kalau ngak inget berarti anda jarang nonton film Bollywood. Berbagai intrik dan trik mewarnai PILKADA.

Para pendukung mulai menawarkan janji, pengurus yang mengusung nama yang akan di usung sibuk dengan spanduk dan jadwal untuk tampil di masyarakat.

Masyarakat ada yang ikut-ikutan sibuk, tapi kebanyakan sudah memasang target apriori ter hadap PILKADA.

Padahal uang yang dikeluarkan untuk pesta demokrasi ini terbilang besar loh….

Lantas kita mau apa ? kalau ngak ikut dosa ngak yah ?, kalau ikut dan salah pilih makin dosa ngak yah ?

Ah… bagi saya terserah masyakat aja dah,,,, saya sendiri lihat nanti aja…apakah ada petunjuk untuk melangkah ke TPS-TPS..

Khusus di Bogor, mudah mudahan PILKADA di Kota maupun kabupaten sukses aja, Wali KOta Maupun Bu Pati terpilih bisa sama rasa sama mata, sama-sama bekerja.