Belajar Jadi Orang Licik   3 comments

Waktu kecil kita sering di beri ceritakan sama mama, papa,  ibu dan bapak guru.

Sampai  kita sudah besarpun cerita cerita itu masih terdegar dan masih diceritakan pada anak anak kita.

Cerita yang sudah tidak asing lagi di telinga, yaitu cerita kancil yang cerdik tetapi licik.

Kancil selalu menang, kancil selalu jadi nomor satu, selalu yang hebat walaupun disaat yang kepepet.

sifat licik itu lambat laut mengakar pada kehidupan kita sekarang, orang dengan berbagai alibinya bisa jadi menang, bisa jadi nomor satu,  bisa kelihatan hebat, walau dengan berbagai cara, termasuk dengan kelicikan.

Kehidupan yang diciptakan kancil-kancil sekarang ternyata bisa merubah nilai-nilai tradisi yang baik jadi tradisi yang kurang baik.

Tetapi itulah hasil pendidikan yang kita terima dari kecil.

Dari kecil pula kita diajarkan agar tandatangan kita dibuat serumit mungkin agar tidak dapat ditiru orang, faktanya mengang tandatangan itu sulit ditiru, tetapi kita lupa bahwa kita sudah diajarkan untuk tidak percaya pada orang, kita menganggap bahwa semua orang diluar kita adalah penipu, orang licik, oleh karena itu tanda tanganpun dibuat serumit mungkin, kalau perlu kita menipu diri kita sendiri dengan mempunyai lebih dari satu tanda tangan

dari dua kejadian itu patut kiranya kita merenung apakah cerita cerita seperti itu masih perlu dilestarikan ? atau lebih dari itu.

Mungkinkah hasil dari kelicikan itu kita budayakan ?

Posted 30 November 2008 by Pucuk in Artikel

3 responses to “Belajar Jadi Orang Licik

Subscribe to comments with RSS.

  1. Assalamualaikum…
    Saya juga ingin berkomentar boleh ya, heheh
    jadi.. menurut saya menjadi licik kadang diperlukan, tapi liat liat… jangan teman sendiri jadi korban, maksudnya Licik kepada musuh..kenapa tidak ?? sejak zaman dahulu saat perang pasti ada namanya strategi, di strategi itulah ada Licik.. bagaimana caranya menghancurkan lawan dengan efektif dan efisien, iya kan ?
    juga seperti ketika seseorang yg lebih pintar menjajah kita..bisa saja kita masuk lewat belakang, mengambil ilmu2 nya.. dan kita pakai untuk menghancurkan si lawan tersebut tanpa dia sadari …
    pintar kalah dengan cerdas, cerdas kalah dengan Cerdik, cerdik kalah dengan licik, licik kalah dengan picik, picik kalah dengan kebenaran… Licik untuk kebenaran kenapa tidak ?? itu pendapat saya.. mohon maaf jika ada kesalahan, maklum namanya juga masih belajar hidup heheh😀

  2. Budaya wayang kita juga mengenal manusia yang sangat licik demi untuk kepentingan pribadi sanggup mengorbankan bangsanya siapa itu ???? Patih Sengkuni…..Jadi apakah perlu dipertanyakan budaya licik perlu dipertahankan !!!!!!! yang penting kita bukan bagian dari mereka….

    Salam

  3. wah ngga usah pesimis gitu pak…. cerita mejelang bobo spt itu perlu juga utk mengakrabkan kita dg buah hati. Mungkin sedikit modifikasi cerita kali ya? spt kancil tidak lagi penuh tipu daya, tetapi digambarkan sbg hewan punya kecerdasan shg tidak diperdaya oleh hewan lain ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: