12 Wanita yang digelari Pahlawan Nasional   Leave a comment

Setiap tanggal 21 April siswa-siswi selalu diingatkan, bahwa tidak hanya kaum Adam saja yang turut mendorong kepada kemerdekaan, tetapi ada juga kaum Hawa.

Dari 150 Gelar Pahlawan Nasional, 12 orang adalah wanita.

Opu Daeng Risadju (1880–1964)
Asal Daerah/Daerah Pengusul: Sulawesi Selatan
Dianugerahi pada 3 November 2006 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Melakukan pemberontakan terhadap tentara NICA pada tahun 1946. Beliau berhasil ditangkap beberapa bulan kemudian dan mengalami penyiksaan yang menyebabkan beliau menjadi tuli hingga akhir hayatnya.

Opu Daeng Risadju (1880–1964)

Hj. Fatmawati Soekarno (1923–1980)
Asal Daerah/Daerah Pengusul: Bengkulu
Dianugerahi pada 4 November 2000 oleh Presiden Abdurrahman Wahid

Penjahit Bendera Pusaka “Sang Saka Merah Putih” yang dikibarkan pada saat Proklamasi 17 Agustus 1945. Beliau juga ialah istri ketiga Soekarno dan Ibu Negara RI yang pertama, mendampingi Presiden Soekarno hingga ia memilih keluar dari Istana pada tahun 1953 karena tidak menyetujui Soekarno menikah lagi. Selepas keluar dari Istana, beliau aktif dalam kegiatan sosial, terutama pada anak-anak penderita tubercolosis. Untuk itu, ia menggalang dana untuk membangun rumah sakit yang sekarang bernama RSUP Fatmawati.

Hj. Fatmawati Soekarno (1923–1980)

Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto (1923–1996)
Asal Daerah/Daerah Pengusul: Jawa Tengah
Dianugerahi pada 30 Juli 1996 oleh Presiden Soeharto

Ibu Negara RI sejak 1967 hingga akhir hayatnya. Pada masa revolusi kemerdekaan, ia bergabung ke Laskar Puteri Indonesia, membantu menyelenggarakan dapur umum serta bantuan kesehatan bagi pejuang Indonesia. Semasa menjadi Ibu Negara, ia dikenal dengan gagasan proyek monumentalnya, terutama Taman Mini Indonesia Indah, Taman Buah Mekarsari, Perpustakaan Nasional, Rumah Sakit Kanker Dharmais, dan Rumah Sakit Jantung Harapan Kita.

Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto (1923–1996)

Hj. Rangkayo Rasuna Said (1910–1965)
Asal Daerah/Daerah Pengusul: Sumatera Barat
Dianugerahi pada 13 Desember 1974 oleh Presiden Soeharto

Pernah dipenjara Belanda pada tahun 1932 karena memprotes ketidakadilan Pemerintah Hindia Belanda. Di masa kemerdekaan, beliau juga pernah duduk menjadi anggota DPR-RIS dan Dewan Pertimbangan Agung. Semasa hidupnya, beliau juga aktif memperjuangkan persamaan hak pria dan wanita.

Hj. Rangkayo Rasuna Said (1910–1965)

Nyi Ageng Serang (1752–1828)
Asal Daerah/Daerah Pengusul: Jawa Tengah
Dianugerahi pada 13 Desember 1974 oleh Presiden Soeharto

Pemimpin daerah Serang, wilayah dalam Kerajaan Mataram, dikenal dekat dengan rakyat dan sering membantu rakyat. Pada usianya yang lanjut, beliau memimpin pasukan dari tandu, membantu Pangeran Diponegoro melawan Belanda selama 3 tahun.

Nyi Ageng Serang (1752–1828)

Nyai Hj. Siti Walidah Ahmad Dahlan (1872–1946)
Asal Daerah/Daerah Pengusul: Daerah Istimewa Yogyakarta
Dianugerahi pada 22 September 1971 oleh Presiden Soeharto

Istri dari K.H. Ahmad Dahlan. Beliau memperjuangkan pendidikan bagi kaum wanita dengan mengadakan pengajian untuk kalangan wanita yang akhirnya berkembang menjadi Lembaga ‘Aisyiyah dalam organisasi Muhammadiyah. Ia juga aktif mengajarkan bahwa perempuan mempunyai hak untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya, serta menentang praktik kimpoi paksa.

Nyai Hj. Siti Walidah Ahmad Dahlan (1872–1946)

Maria Walanda Maramis (1872–1924)
Asal Daerah/Daerah Pengusul: Sulawesi Utara
Dianugerahi pada 20 Mei 1969 oleh Presiden Soeharto

Memperjuangkan pendidikan dan pemberdayaan bagi kaum ibu-ibu dengan mendirikat organisasi Percintaan Ibu Kepada Anak Turunannya (PIKAT) pada tahun 1917. Pada tahun 1919, beliau memperjuangkan agar wanita memiliki hak suara di lembaga perwakilan Minahasa Raad. Usahanya membuahkan hasil setelah pada tahun 1921, Pemerintah Hindia Belanda memperbolehkan wanita memberikan suaranya dalam Minahasa Raad.
Maria Walanda Maramis (1872–1924)

Martha Christina Tiahahu (1800–1818)
Asal Daerah/Daerah Pengusul: Maluku
Dianugerahi pada 20 Mei 1969 oleh Presiden Soeharto

Mengangkat senjata terjun langsung dalan medan perang melawan Belanda sejak umur 17 tahun, membantu ayahnya yang merupakan pembantu Kapitan Pattimura. Ia tertangkap ketika berusaha membebaskan ayahnya yang tertangkap lebih dulu. Ia dihukum diasingkan ke Pulau Jawa, namun ia wafat dalam perjalanan ke Pulau Jawa. Jasadnya kemudian dibuang ke Laut Banda.

Martha Christina Tiahahu (1800–1818)

Raden Dewi Sartika (1884–1947)
Asal Daerah/Daerah Pengusul: Jawa Barat
Dianugerahi pada 1 Desember 1966 oleh Presiden Soekarno

Beliau memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan dengan mendirikan Saloka Istri pada tahun 1904, yang merupakan sekolah khusus perempuan pertama di Hindia Belanda. Sekolah yang didirikannya berkembang hingga merambah seluruh wilayah Pasundan, hingga ke wilayah Sumatera. Beliau juga sempat mendapat bintang penghargaan dari pemerintah Hindia Belanda atas usahanya memberdayakan perempuan.

Raden Dewi Sartika (1884–1947)

Raden Adjeng Kartini (1879–1904)
Asal Daerah/Daerah Pengusul: Jawa Tengah
Dianugerahi pada 2 Mei 1964 oleh Presiden Soekarno

Dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan karena pikiran dan pandangannya mengenai emansipasi wanita, khususnya hak berpendidikan serta hak memperoleh kebebasan dan persamaan hukum bagi kaum perempuan. Pikiran dan pandangannya itu ditulis dalam surat kepada teman-temannya di Eropa. Surat-suratnya itu kemudian dikumpul, dibukukanan, dan diterbitkan dengan judul Door Duisternis tot Licht di Belanda pada tahun 1911. Buku itu kemudian diterjemahkan ke Bahasa Melayu dan diterbitkan di Hindia Belanda dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang pada tahun 1922.

Raden Adjeng Kartini (1879–1904)

Tjoet Nja’ Meutia (1870–1910)
Asal Daerah/Daerah Pengusul: Aceh
Dianugerahi pada 2 Mei 1964 oleh Presiden Soekarno

Memimpin pasukan melawan Belanda bersama suaminya sejak tahun 1905. Ketika suaminya tertangkap dan dihukum mati, beliau tetap melanjutkan perjuangan. Ia kemudian gugur dalam peperangan pada tahun 1910.

Tjoet Nja' Meutia (1870–1910)

Tjoet Nja’ Dhien (1848–1908)
Asal Daerah/Daerah Pengusul: Aceh
Dianugerahi pada 2 Mei 1964 oleh Presiden Soekarno

Bersama suaminya, Teuku Umar, beliau memimpin perang melawan pasukan Belanda sejak tahun 1880. Setelah suaminya gugur, ia tetap berjuang berperang melawan Belanda. Ia berhasil ditangkap dan diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat, hingga akhir hayatnya.

Tjoet Nja' Dhien (1848–1908)

Posted 19 April 2012 by Pucuk in Kebangsaan

Tagged with ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: