Hari Kartini dan Puteri Indonesia   Leave a comment

Matahari sudah lewat ubun-ubun waktu Kabayan dan Nyi Iteung melintasi sebuah kawasa pertokoan di ibukota kecamatan. Mereka baru saja menjual hasil kebun mereka ke pasar, sekalian belanja keperluan sehari-hari yang sebetulnya tidak terlalu banyak. Kabayan dan Iteung hanya hidup berdua, kebutuhan sehari-hari soal makanan sudah hampir tercukupi oleh hasil kebun dan sawah mereka. Tapi sesekali kan boleh saja mereka merasakan kenikmatan jenis lain, makan masakan warung atau belanja baju baru.

Dari jejeran ruko itu, keluarlah seorang ibu yang menuntun anak perempuan berusia sembilan atau sepuluh tahunan. Mereka baru saja keluar dari sebuah salon yang melayani jasa rias pengantin dan penyewaan pakaian. Si anak tampak tidak terlihat senang, dan ibunya kelihatan bingung, apalagi si anak kelihatan merajuk. “Besok pake kaen Ema saja ya, bajunya batik yang bekas lebaran kemarin, nanti rambutnya dikepang saja sama Teh Isah…” kata si Ibu. Tapi si anak mandeg, nggak mau jalan, “Tapi temen-temen Titin yang lain pake kebaya Ma, nyewa dari salon… kan malu kalo Titin sendiri yang nggak pake kebaya…” kata si Anak.

Si Ibu berjongkok di depan anaknya, mencoba memberi penjelasan, “Iya, tapi uang Ema nggak cukup, masak nyewa kabaya sasetel empat puluh rebu. Uang dari Bapa saja tadi Cuma lima puluh rebu, sudah keambil ongkos sama makan baso tadi…” kata si Ibu. Si Anak tetep manyun, “Ya Ema balik dulu, minta lagi duitnya sama Bapa…” katanya. Si Ibu menggeleng-geleng, “Teu aya deui (nggak ada lagi) Neng, Bapa belum gajihan, gajihannya masih sepuluh hari lagi…” kata si Ibu lagi.

Iteung yang sempat mendengarkan percakapan itu, tertarik untuk mendekat dan bertanya, “Ada apa Bu?” tanyanya. Sudah lama ia memang mendambakan seorang anak yang hingga saat ini belum didapatkannya. Iteung lalu bertanya pada si Ibu. Bagi masyarakat di pedesaan atau di kota kecil seperti itu, bertanya seperti itu tidak akan dianggap sebagai ikut campur. Mungkin lain halnya dengan di kota besar, yang bisa saja malah dianggap usil dan ditanggapi salah. Buktinya, waktu ditanya, si Ibu tersenyum pada Iteung dan menjawab, “Ah biasa Neng, ini anak saya besok harus ikut Kartinian di sekolahnya. Tapi disuruh pake baju kebaya. Ini mau nyewa harganya mahal pisan, satu setelnya empat puluh ribu seharian. Sudah saya tawar dua puluh rebu sampe pulang sekolah dikembalikan, salonnya nggak mau…” jawab si Ibu.

“Memangnya harus pake kabaya ya Bu?” tanya Iteung. Si Ibu menggeleng, “Ya enggak sih Neng, yang penting pake pakean adat. Tapi pakean adat yang daerah lain malah lebih mahal sewanya…” jawab si Ibu lagi. “Tiap taun Kartiniannya?” tanya Iteung polos. Si Ibu mengangguk, “Ya iya lah Neng, tiap taun, kayak agustusan…” jawab si Ibu sambil tersenyum. “Maksud saya, kalo tiap taun, kenapa nggak beli aja sekalian baju kebayanya?” tanya Iteung lagi.

Kabayan yang ada di deka situ menimpali istrinya, “Kamu teh gimana Teung, nyewa aja mahal, apalagi beli!” kata Kabayan. Iteung melirik suaminya, “Maksudnya, kalau beli kan bisa dipake tiap taun, jadi nggak usah nyewa terus…” jawab Iteung. Si Ibu menimpali, “Maunya sih begitu Neng, tapi kalo beli juga percuma, taun depan bajunya pasti nggak muat lagi…” kata si Ibu.

Iteung mengangguk-angguk, “Oooh iya yah. Kalau cuma dipake setaun sekali kan sayang bajunya, pas mau dipake sudah nggak muat. Kenapa Kartiniannya nggak tiap minggu aja ya, kayak upacara…” kata si Iteung, entah polos entah oon. Kabayan langsung menarik tangan istrinya, “Ngaco kamu mah ah, masak Kartinian tiap minggu. Ibu Kartini kan ulang tahunnya setahun sekali. Makanya pake kebayanya juga setaun sekali!” kata Kabayan.

Iteung masih keukeuh, “Kenapa Ibu Kartini yang ulang tahun, tapi anak-anak harus pake kebaya?” tanya Iteung lagi. Kabayan gemes melihat kelakuan istrinya itu. “Ibu Kartini teh pahlawan Iteung, pahlawan wanita Indonesia. Nah untuk memperingati jasanya, tiap hari kelahirannya diperingati sebagai hari Kartini, terus biasanya anak-anak disuruh pake pakean daerah, ikut pawey, karnapal, lomba…” kata Kabayan.

Iteung nyureng, “Iya, saya juga tau Ibu Kartini teh pahlawan Kang. Tapi kan yang namanya pahlawan itu membantu orang, bukan malah nyusahin orang. Masak gara-gara dia pahlawan, semua orang harus pake kabaya, pan repot!” kata Nyi Iteung lagi. Si Ibu keliatan geleng-geleng kepala sambil mesam-mesem. Kabayan yang justru malah tambah jengkel, “Yang salah itu bukan Ibu Kartininya Iteung, tapi sekolah yang nyuruh muridnya pake pakean adat, dan nggak liat-liat kemampuan orang tuanya. Kalo mau bikin peringatan Ibu Kartini, kan bisa pake cara lain, nggak cuma sekadar pake kabaya!” kata Kabayan.

“Iya Kang, saya juga bingung, jangan-jangan anak-anak malah nggak tau siapa…” timpal si Ibu. Ia lalu melirik anaknya, “Titin tau siapa Ibu Kartini?” tanyanya. Titin langsung menjawab, “Ya tau atuh Bu, kan ada lagunya. Titin juga apal lagunya…” jawabnya. “Iya, siapa Ibu Kartini teh?” tanya ibunya lagi yang jadi terusik pengen tau gara-gara obrolannya dengan Kabayan dan Iteung. “Itu, Putri Indonesia yang namanya Harum!” jawab Titin. Ibunya langsung geleng-geleng dan menepuk kepalanya sendiri, “Saya malah jadi tambah males nyewain baju kabaya itu Kang, kalo begini jadinya…” katanya sambil melirik Kabayan.

Kabayan hampir saja ngomong, tapi Nyi Iteung sudah memotong, “Udah, nyewa aja Neng, ini Bibi kasih uangnya. Siapa tau besok Neng bisa jadi Putri Indonesia, kan bisa terkenal kayak Ibu Kartini atau Enjelina Sondah!” kata Iteung sambil menyerahkan duit lima puluh rebu selembar pada anak perempuan itu. Anaknya jelas gembira, ibunya yang bingung, dan Kabayan jelas sebel! (diambil dr kompasiana)

Posted 28 April 2012 by Pucuk in Humor Guru n Murid, Kebangsaan, Renungan

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: