Negara yang di pimpin oleh wanita part 1   Leave a comment

Mari kita lihat bagai mana sepak terjang para wanita  hebat ini. Alangkah hebat mereka, bukan saja jadi istri, ibu, nenek, anak  tetapi meraka bisa menjadi seorang pemimpin. Mungkin kita bisa mengambil sesuatu dari mereka untuk kehidupan kita, setidaknya jadi pengetahuan kita.

Elizabeth II
(Elizabeth Alexandra Mary)

Ratu Britania Raya (sejak Februari 1952)
Ratu Kanada (sejak Februari 1952)
Ratu Australia (sejak Februari 1952)
Ratu Selandia Baru (sejak Februari 1952)
Ratu Jamaika (sejak Agustus 1962)
Ratu Barbados (sejak November 1966)
Ratu Bahama (sejak Juli 1973)
Ratu Grenada (sejak Februari 1974)
Ratu Papua Nugini (sejak September 1975)
Ratu Kepulauan Solomon (sejak Juli 1978)
Ratu Tuvalu (sejak Oktober 1978)
Ratu Santa Lusia (sejak Februari 1979)
Ratu St. Vincent & Grenadines (sejak Oktober 1979)
Ratu Belize (sejak September 1981)
Ratu Antigua & Barbuda (sejak November 1981)
Ratu St. Kitts & Nevis (sejak September 1983)

Lahir di London pada 21 April 1926, Elizabeth awalnya tidak diprediksi akan menjadi Ratu. Namun ketika pamannya, Edward VIII memberikan takhtanya kepada George VI, ayah Elizabeth, pada tahun 1936, Elizabeth menjadi sorotan publik karena ia menjadi penerus takhta kerajaan. Semasa Perang Dunia II, Elizabeth sempat bekerja sebagai supir dan montir kendaraan untuk membantu kebutuhan tentara. Ia naik takhta pada umur 26 tahun sepeninggal ayahnya. Selain Ratu Britania Raya, Elizabeth II juga Ratu bagi 15 negara lainnya. Ia juga menjabat sebagai Kepala Organisasi Internasional Negara-Negara Persemakmuran. Di bidang agama, ia merupakan Pemimpin Gereja Kristen Anglikan. Saat ini Ratu Elizabeth II mencatat rekor sebagai ratu tertua dan ratu terlama kedua dalam sejarah Britania Raya.

Margrethe II
(Margrethe Alexandrine Þórhildur Ingrid)

Ratu Denmark (sejak Januari 1972)

Lahir di Kopenhagen pada 16 April 1940, Margrethe pada awalnya tidak pernah dipersiapkan menjadi Ratu karena secara tradisional, Denmark hanya memperbolehkan laki-laki menjadi Raja. Namun ketika hampir dipastikan ayahnya, Raja Frederik IX dan ibunya yang telah melahirkan tiga putri dan tidak mungkin melahirkan lagi, referendum yang akhirnya digelar dan menghasilkan bahwa rakyat Denmark setuju untuk dipimpin seorang Ratu. Margrethe II pun akhirnya naik takhta sepeninggal ayahnya pada tahun 1972.

 

Beatrix
(Beatrix Wilhelmina Armgard)

Ratu Belanda (sejak April 1980)

Lahir di Baarn pada 31 Januari 1938, Beatrix menjalani masa kecil di pengasingan setelah Belanda dikuasai Jerman pada Perang Dunia II. Ia kembali ke Belanda setelah berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945. Tiga tahun kemudian, dalam usia 10 tahun, ia menjadi Putri Mahkota Belanda setelah ibunya, Ratu Juliana naik takhta. Tahun 1961, ia lulus di bidang hukum dari Universitas Leiden. Beatrix akhirnya naik takhta pada tahun 1980 setelah ibunya memilih untuk pensiun dan memberikan takhtanya kepada anaknya. Sebagai Ratu Belanda, lebih dari 30 gelar juga melekat pada dirinya.

 
Ntombi
(Ntombi laTwala)

Ibu Suri Swaziland (sejak September 1983)

Lahir pada tahun 1950, ia menikah dengan Raja Sobhuza II di usia muda dan memiliki seorang putra bernama Makhosetive. Sepeninggal Raja Sobhuza II, para tokoh adat mengumumkan, bahwa sesuai wasiat Sobhuza II yang ingin Makhosetive menjadi penerusnya, maka Ntombi didaulatkan sebagai Ibu Suri Swaziland yang bergelar Ndlovukazi pada tahun 1983. Karena umur Makhosetive masih belum cukup umur, Ntombi pun memegang kendali pemerintahan sementara hingga tahun 1986 ketika Makhosetive berumur 18 tahun dan resmi menjadi Raja Mswati III. Selepas anaknya naik tahkta, Ntombi selaku Ibu Suri bertakhta bersama-sama dengan putranya memimpin Swaziland.

Pearlette Louisy
Gubernur Jenderal Santa Lusia (sejak 1997)

Lahir di Desa Laborie pada 17 September 1997, Pearlette Louisy mengambil pendidikan di bidang bahasa dan berkarir di bidang pendidikan dan mendapat penghargaan atas kontribusinya yang luar biasa mengembangkan pendidikan di Santa Lusia. Dengan dukungan pemerintah Santa Lusia, pada tahun 1997, Ratu Elizabeth II mengangkatnya sebagai Gubernur Jenderal Santa Lusia, menjadikannya wanita pertama yang pernah memegang jabatan itu.

 

 

Tarja Kaarina Halonen
Presiden Finlandia (sejak Maret 2000)

Lahir di Helsinki pada 24 Desember 1943 Tarja Halohen menjadi presiden wanita pertama di Finlandia setelah memenangkan 51,6% suara pada pemilihan presiden tahun 2000. Ia kemudian terpilih kembali pada tahun 2006 dengan 51,8% suara. Mengawali karirnya sebagai pengacara, ia memasuki dunia politik pada tahun 1971, kemudian menjadi anggota Dewan Kota Helsinki pada 1976 dan kemudian anggota Parlemen Finlandia pada tahun 1979. Beberapa posisi menteri pun pernah didudukinya, antara lain Menteri Sosial dan Kesehatan pada 1987, Menteri Kehakiman pada 1991, dan Menteri Luar Negeri pada 1995.

 
Angela Dorothea Merkel
Kanselir Jerman (sejak November 2005)

Angela Merkel diangkat menjadi Kanselir wanita pertama di Jerman setelah partai beserta koalisinya memenangi Pemilihan Umum 2005. Kelahiran Hamburg pada 17 Juli 1954, Angela Merkel berkecimpung di dunia politik setelah reunifikasi Jerman pada tahun 1990. Selanjutnya, ia diangkat menjadi Menteri Wanita dan Pemuda pada 1991 dan Menteri Lingkungan Hidup pada 1994. Setelah kekalahan partainya, ia menjadi Pemimpin Oposisi pada tahun 1998 hingga akhirnya diangkat menjadi Kanselir. Pada tahun 2009, ia diangkat kembali untuk masa jabatannya yang kedua setelah partai koalisinya kembali memenangkan pemilu.

 

Ellen Johnson Sirleaf
Presiden Liberia (sejak Januari 2006)

Selain presiden wanita pertama Liberia, Ellen Sirleaf juga ialah wanita pertama yang terpilih sebagai presiden dalam sejarah di Afrika. Lahir di Monrovia pada 29 Oktober 1938, ia mengawali karir politik pada tahun 1972, menjadi Asisten Menteri Keuangan, dan kemudian menjadi Menteri Keuangan pada 1979. Pada akhir tahun 1980, ia kabur ke Amerika Serikat setelah terjadi kudeta militer di Liberia. Selama di pengasingan, ia sempat bekerja di Bank Dunia, diangkat menjadi Wakil Presiden Citibank, serta Direktur Badan Progam Pembangunan PBB (UNDP). Ia kembali ke Liberia pada tahun 1997 untuk mengikuti pemilihan presiden, namun kalah. Ia akhirnya terpilih sebagai presiden pada tahun 2005 setelah memenangkan 59,4% suara dan mengangkat sumpah pada Januari 2006. Kesuksesan pemerintahannya di periode pertama menjadikannya terpilih kembali dengan angka fantastis untuk periode keduanya, yakni 90,7% suara pada 2011

Doris Leuthard
Anggota Dewan Federal Swiss (sejak Agustus 2006)

Lahir pada 10 April 1963, sebelum menjadi kepala negara, ia merupakan anggota parlemen pada tahun 1999. Doris terpilih sebagai Anggota Dewan Federal pada 2006 untuk membidangi urusan perekonomian. Ia juga sempat menjabat Presiden Konfederasi pada tahun 2010. Sejak November 2010, ia membidangi urusan lingkungan hidup, transportasi, energi, dan komunikasi.

 

 

 
Louise Agnetha Lake-Tack
Gubernur Jenderal Antigua & Barbuda (sejak Juli 2007)

Usai mengambil pendidikan di bidang keperawatan, Louise yang lahir pada 26 Juli 1944 ini sempat bekerja di rumah sakit sebelum akhirnya ia melanjutkan studi di jurusan hukum. Usai lulus, ia pun berkecimpung di dunia pengadilan. Ia juga aktif dalam organisasi Asosiasi Nasional Antigua & Barbuda, organisasi yang bergerak di bidang sosial, pendidikan, dan hukum bagi warga Antigua & Barbuda di luar negeri, terutama di Inggris. Ia diangkat menjadi Gubernur Jenderal wanita pertama pada Juli 2007.

 

 
Pratibha Devisingh Patil
(प्रतिभा देवीसिंह पाटील

Presiden India (sejak Juli 2007)

Lahir pada 19 Desember 1934 di Nadgaon, Khandesh, ia mengawali karir sebagai pengacara, dan terpilih sebagai anggota parlemen lokal pada usia 27 tahun. Berbagai posisi menteri di level negara bagian pun pernah dijabatnya dari 1967 hingga 1985. Pada tahun 1985, ia terpilih menjadi anggota parlemen nasional. Pada tahun 2004, ia menjadi Gubernur wanita pertama di Negara Bagian Rajasthan. Dan pada tahun 2007, ia terpilih sebagai Presiden wanita pertama di India setelah didukung 65,8% suara.

 

Cristina Elisabet Fernández de Kirchner
Presiden Argentina (sejak Desember 2007)

Lahir di Buenos Aires pada 19 Februari 1953, ia memulai karir politik pada tahun 1970-an, namun sempat keluar untuk berkonsentrasi menjadi pengacara bersama dengan suaminya, Néstor Kirchner. Ia kembali ke politik pada tahun 1995 dan terpilih menjadi anggota Senat. Pada tahun 2003, ia menjadi Ibu Negara Argentina setelah suaminya terpilih sebagai Presiden Argentina. Selama menjadi Ibu Negara, penampilan, kharisma dan pengaruhnya membuatnya sering dibandingkan dengan Eva Perón. Pada tahun 2007, setelah suaminya memutuskan untuk tidak mencalonkan diri kembali, ia pun tampil sebagai calon presiden untuk menggantikan suaminya, dan berhasil menang dengan 45,3% suara, mengalahkan belasan kandidat lainnya. Pada tahun 2011, ia terpilih kembali untuk periode keduanya, dengan perolehan 54,1% suara.
Eveline Widmer-Schlumpf
Anggota Dewan Federal Swiss (sejak Januari 2008)
Presiden Konfederasi Swiss (sejak Januari 2012)

Lahir di Felsberg pada 16 Maret 1956, ia merupakan putri dari Leon Schlumpf, Anggota Dewan Federal Swiss pada tahun 1979–1987. Berlatar belakang pengacara, ia memulai karir politik pada tahun 1994 dengan menjadi anggota parlemen lokal. Ia terpilih sebagai Anggota Dewan Federal pada akhir tahun 2007, di awal tahun kemudian, membidangi urusan hukum dan kepolisian. Menjelang akhir tahun 2010, ia membidangi urusan keuangan. Saat ini, ia juga menjabat sebagai Presiden Konfederasi Swiss setelah sebelumnya sempat menjabat sebagai Wakil Presiden.

 

Quentin Alice Louise Bryce
Gubernur Jenderal Australia (sejak September 2008)

Lahir di Brisbane, 23 Desember 1942, Quentin Bryce menyelesaikan pendidikan di bidang hukum dan berkarir di bidang yang sama. Ia sempat menjadi Ketua Komisi HAM dan anggota Komisi Diskriminasi Seksual di Queensland sebelum akhirnya diangkat menjadi Gubernur Queensland pada 2003. Karena kinerjanya yang memuaskan, masa jabatannya yang berakhir pada 2008 diperpajang setahun. Namun sebelum masa perpanjangan jabatannya habis, pada pertengahan tahun 2008, ia diangkat menjadi Gubernur Jenderal Australia. Pengangkatannya sebagai Gubernur Jenderal mendapat banyak dukungan dari publik.

 

Sheikh Hasina
(শেখ হাসিনা

Perdana Menteri Bangladesh (sejak Januari 2009)

Lahir di Tungipara pada 28 September 1947, Sheikh Hasina terlibat dalam politik sejak 1975, ketika ayahnya yang juga presiden pertama Bangladesh dibunuh saat terjadi kudeta militer. Sheikh Hasina yang saat itu berada di Jerman pun menggalang dukungan di luar negeri. Pada tahun 1986, setelah diizinkan kembali ke Bangladesh, ia menjadi pemimpin oposisi menentang rezim militer. Setelah rezim militer runtuh, ia berhasil menjadi Perdana Menteri pada tahun 1996, namun kembali menjadi oposisi pada 2001 setelah kekalahan partainya di pemilu. Pada 2009, partainya menang kembali di pemilu, ia pun diangkat kembali sebagai perdana menteri untuk masa jabatannya yang kedua.

Posted 2 Mei 2012 by Pucuk in Artikel, Kebangsaan

Tagged with , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: