Armaji tukang penjual pisang   Leave a comment

 photo tukangpisang.jpgArmaji tukang penjual pisang keliling di kota Bogor, maji sebutannya menawarkan pisangnya di depan toko yang banyak pengunjungnya. Ketika dagangannya sudah habis dia istirahat sambil mengeluarkan sebatang rokok . Dari raut mukanya ada cahaya kegembiraan yang merupakan pancaran hatinya.

Sambil menunggu istri yang sedang belanja di dalam toko, aku coba membuka pembicaran dengan Armaji.

Kang ! dagangannya sudah habis yah ? Allhamdullilah jawabnya.

Setiap hari selalu habis kang ? Allhamdullilah sesuai doa yang dipanjatkan.

Sambil menemani kang Armaji akupun mengeluarkan sebatang rokok.

Wah hebat dong kang, boleh dong minta doa yang selalu dipanjatkannya apa kang ? sambil terkekeh-kekeh dia bilang doa biasa aja. Yang penting kita minta pada pemilik kita, pemilik kehidupan ini.

Akang kalau berdoa sesudah shalat ? tidak selalu sudah shalat, doa akang mah kapan aja dan dimana saja. Yang penting kita selalu ingat pada pemilik kehidupan ini.

Akang punya anak berapa ? Allhamdullah 3 orang yang 1 baru lulus sarjana yang 2 lagi sudah kerja. Dimana kang mereka kerjanya ? di kementerian Anu….wah hebat kerja disitu mah jawab ku. Ah orang mah tidak ada yang hebat anak-anak bisa sampai lulus Sarjana karena usaha dan restu pemilik kehidupan ini, bahkan yang nomor dua sekarang sudah Doktor, yang kedua master. Itu juga kata mereka, akang mah tidak tahu sekolah yang begituan.

Yang penting kata kang Armaji, mereka bisa hidup baik, ikuti aturan tidak boleh menyakiti makhluk lain, karena bila hal tersebut dilanggar pemilik kehidupan ini akan marah dan akan menghukum kita dengan kehidupan yang tidak nyaman.

Anak-anak tidak malu melihat bapaknya masih jual pisang keliling….he..he. armaji tersenyum, kalau mereka malu tidak mungkin mereka bawa teman-temannya kesini untu beli pisang saya.

Ternyata Armaji bukan hanya bisa membimbing anak-anaknya sampai sarjana tapi kehidupan materi pun sangat cukup. Luas lahan hasil pembelian nyicil seluas 600 m2 dipakai untuk rumah 60 m2, sisanya ditanami tanaman untuk kebutuhan sehari-hari. Kerjapun tidak seharian kang Maji hanya memulai kerja jam 5.00 pagi sampai jam 13.00, itupun sebagaian waktunya dia pakai untuk mencari pisang untuk jualan besoknya.

Ternyata hidup itu medah menurut kang Armaji, ikuti saja keinginan pemilik kehidupan ini dan jangan menentangnya. Pasti semua akan aman dan nyaman katanya.

Armaji ini bukan seorang yang taat menjalankan ritual keagamaan, tapi Dia taat pada nilai-nilai kehidupan. Mau menolong orang , tidak meyakiti mahluk lain, mau memasrahkan semua urusan pada pemilik alam ini, jangan serakah, rukun dengan keluarga, tetangga dan yang terpenting katanya awali kegiatan dengan doa, Syukuri apa yang didapat, rasakan kenikmatan itu sampai terasa…he..he..sambil terkekeh dia cerita.

Istriku keluar toko akupun pamit pada kang Armaji. Setelah menyebrang jalan aku lirik kang Armaji ternyata Dia juga sedah berjalan sambil menggendong keranjang yang sudah kosong

Sejenak aku termenung, kang armaji tidak mau menyakiti saya untuk mengakhiri obrolan. Dia menunggu saya yang mengakhirinya. Ternyata dia lebih baik dari yang telihat.

sebenarnya kang Armaj ini agamanya apa yah ? ah kok jadi pikiran, agama tidak lebih penting dari pencipta agama itu sendiri

Posted 8 November 2014 by Pucuk in Coretan, Renungan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: